LAPORAN AKHIR

M.K INTERAKSI MANUSIA DAN KOMPUTER

SEMESTER GENAP 2007/2008

 

 

 

 

Kajian Situs

http://www.bi.go.id

 

 

 

 

 

oleh:

Ciramudya Adha Gafawidj

G64051194

(http://ciramudya.wordpress.com)

 

 

 

 

 

 

 

   

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

 

PENDAHULUAN

 

Kesuksesan sebuah web tergantung kepada bagaimana web tersebut memanjakan user dengan membuat task-task yang mudah diikuti oleh user dan menyesuaikannya dengan user experience. Pengalaman setiap user dalam menjelajahi web berbeda-beda. Oleh karena itu, user dibedakan menjadi low-experience user dan high-experience user. Faktor-faktor yang membedakan kedua jenis user ini adalah sebagai berikut:

1.       Sudah sejak kapan seorang user menjelajahi internet

2.       Berapa jam per minggunya user menggunakan internet

3.       Sudah seberapa ahli seorang user dalam menggunakan fasilitas-fasilitas di internet

4.       Kemampuan user menyelesaikan masalah komputer

5.       Seberapa jauh seorang user mengikuti perkembangan teknologi

Kegagalan-kegagalan yang dialami user dalam menjalankan task-task yang ada akan menyebabkan user beralih ke web yang lain. Jika dalam waktu sekitar satu menit 49 detik user tidak dapat menemukan apa yang dia inginkan, maka user pun akan beralih. Dan diperlukan waktu tiga menit 49 detik bagi user untuk menjalankan task.

 

PEMBAHASAN

 

1.      Tampilan Awal

 

Berikut adalah tampilan awal dari http://www.bi.go.id/:

 

Gambar 1. Tampilan awal situs Bank Indonesia

 

Pada tampilan awal situs Bank Indonesia, user dapat memilih untuk menjelajahi situs dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Navigasi pemilihan bahasa cukup baik karena perbedaan warna dan peletakkannya di tengah-tengah halaman membuat user menyadari bahwa itu clickable. Navigasi yang diberikan pada halaman ini, seperti Data Informasi Bisnis Indonesia, Investor Relation Unit, Links, Syarat & Kondisi, Kontak BI, dan Site Map, tertata dengan baik dan mudah diikuti. Data Informasi Bisnis Indonesia dan Investor Relation Unit dibuat dengan image yang timbul keluar sehingga terlihat clickable. Jika pada halaman ini kita langsung mengklik link navigasi selain pemilihan bahasa, kita akan masuk ke halaman berbahasa Indonesia sebagai default-nya, kecuali untuk navigasi ke Investor Relation Unit. Sayangnya logo yang terletak di kiri atas dan di tengah-tengah halaman bukan merupakan link yang dapat mengantarkan user ke homepage yang secara default berbahasa Indonesia.

 

2.      Logo

 

Gambar 2. Header pada halaman Home versi Bahasa Indonesia

 

Logo merupakan sebuah identitas. Dengan melihat logo, orang-orang dapat mengenali empunya logo. Oleh karena itu, logo harus diletakkan dengan tepat sehingga dapat terlihat oleh user. Maka semakin sering user mengunjungi web, semakin terkenal pula web tersebut berikut logonya. Pada Gambar 1 dan Gambar 2, logo tepat berada di kiri atas halaman dan hanya berupa image tanpa link kemanapun. Peletakkan logo di kiri atas halaman merupakan hal yang tepat namun sayangnya logo tersebut, baik yang di Gambar 1 maupun Gambar 2, tidak berupa link yang dapat mengantarkan user kembali ke homepage.

 

3.      Breadcrumb

 

Gambar 3. Breadcrumb

 

Breadcrumb merupakan petunjuk alur yang dilalui user untuk bisa sampai ke halaman yang sedang dia jelajahi. Dengan adanya breadcrumb, user dapat kembali ke halaman sebelumnya dengan mudah. Gambar 3 merupakan gambar breadcrumb dimana user sedang dalam halaman “BI Rate”. Breadcrumb untuk halaman-halaman sebelumnya yang telah dilalui user ditampilkan dalam bentuk navigasi berupa link yang berwarna biru dan digarisbawahi, sedangkan untuk menampilkan halaman yang sedang dijelajahi ditampilkan dengan warna yang berbeda, yaitu hitam. Pewarnaan ini mempermudah user untuk mengetahui tulisan mana yang merupakan link dan mana yang bukan link. Pemisahan breadcrumb dengan menggunakan tanda “>” juga semakin memperjelas tulisan.

 

4.      Search

 

Gambar 4. Form search yang ambigu

 

Jika dilihat secara keseluruhan, user yang memiliki experience yang rendah mungkin akan kesulitan menemukan form untuk search. Kata-kata “Tentang Portal BI”, “Syarat-syarat”, “English version”, textbox, dan tombol Go yang disatukan dalam satu box di kiri atas serta tidak adanya tulisan “Search” akan menyebabkan keambiguan. Box tersebut dapat disalahartikan user. User dapat mengira bahwa yang ada di box tersebut merupakan sesuatu yang berhubungan dengan portal BI, namun sama sekali tidak berpikiran mengenai search. Hal ini disebabkan karena pengelompokkan yang salah. Seharusnya search tidak ikut dimasukkan ke dalam box tersebut. Form search sering terlihat berada di bagian kanan atas web berupa sebuah texbox dan tombol Search. Kalaupun ingin menggunakan tombol Go, maka format berikutlah yang mudah dimengerti:

Search:

Lagipula, tulisan “Tentang Portal BI” dan “Syarat-syarat” tidak baik untuk digunakan karena tidak memberikan informasi apapun dan tidak jelas kegunaannya. Tulisan-tulisan tersebut juga bukan merupakan link yang memberikan informasi lebih jauh. Dan jika diubah menjadi link pun tidak akan sesuai pada tempatnya. Jadi sebaiknya dihapus saja.

Tulisan “English version” yang terletak di atas form search tersebut juga memberikan kesan bahwa hasil yang akan didapat setelah memasukkan keyword berupa hasil dalam versi berbahasa Inggris. Maka sekali lagi, tata letak harus lebih diperhatikan.

Search engine pada web ini juga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Seharusnya, sebuah search engine dapat memberikan informasi mengenai apa yang user cari dan menampilkannya pada halaman web. Pada saat dites, user memberi masukan keyword dari informasi yang dia cari, kemudian mengklik tombol Go. Namun ternyata tombol Go tidak berfungsi sebagai apapun. Search engine tidak bekerja. Untuk mengatasi hal ini, user mencoba menekan tombol Enter pada keyboard setelah memberi masukan keyword. Search engine mulai terlihat sedang bekerja, namun ternyata akhirnya kembali ke halaman saat dia mengklik Enter tadi dan tidak ada peringatan apapun. Kegagalan-kegagalan semacam ini dapat menyebabkan user meninggalkan web yang sedang dia jelajahi.

 

5.      Navigasi Link

 

Hanya terdapat satu link navigasi pada header. Header terlihat kosong. Link-link navigasi yang penting tidak ditaruh di header. Padahal user memiliki kecenderungan untuk mencari navigasi di bagian header.

 

Gambar 5. Header situs Bank Indonesia

 

Link navigasi yang lain diletakkan pada footer. Hal ini sangat tidak sesuai dengan user experience.  User akan kesulitan mencari link navigasinya. User yang sudah tahu letak link navigasi juga akan tetap kesulitan untuk mengkliknya jika konten pada halaman yang dia jelajahi memanjang ke bawah. Konten yang banyak menyebabkan user tersebut harus melakukan scrolling terlebih dahulu hanya untuk menuju link navigasi yang ada pada footer. Jika link navigasi yang ingin diperlihatkan merupakan link navigasi yang bersifat penting dan strategis, misalnya Peta Situs (Site Map), maka letakkanlah di tempat yang strategis pula, yaitu header.

 

Gambar 6. Footer situs Bank Indonesia

 

6.      Navigasi Menu

 

Jika pertama kali melihat potongan gambar yang dibatasi dengan garis merah (Gambar 7), user akan sulit menyadari bahwa itu merupakan menu. Pada awalnya, user berkemungkinan mengira bahwa itu merupakan Info Penting (lihat lingkaran merahnya). Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa tag Info Penting berada di bawah dan bukan di atas info-infonya?

Ternyata tulisan Info Penting dapat diklik dan memperlihatkan daftar judul info penting yang sebenarnya. Lantas apakah yang sebenarnya ada di atas tag Info Penting? Setelah mouse mulai bergerak menyusuri baris-baris di atas tag Info Penting, terlihat tanda-tanda bahwa daftar tulisan itu adalah navigasi menu web ini. Tanda-tandanya terlihat dari adanya perubahan warna saat di hover oleh mouse dan munculnya dropdown menu. Sayangnya, perubahan warna saat di hover tidak terlalu kontras sehingga dapat terlewat oleh mata yang kurang awas. Dan lagi tidak semua menu memiliki lebih dari satu level sehingga dropdown menu tidak keluar.

 

Gambar 7. Menu 1

 

Gambar 8. Menu 2

 


Selain itu, penggunaan dropdown menu cukup mengganggu jika level kedalamannya tinggi. Oleh karena itu, hindari penggunaan menu dengan level kedalaman yang tinggi (lihat Gambar 9).

Navigasi menu juga tidak konsisten. Pada gambar di atas, tidak terlihat lagi ada tag Info Penting. Selain itu, sebenarnya Info Penting juga sudah terdapat pada menu (lihat Gambar 9). Isi dropdown menu pada Info Penting sama persis dengan Gambar 8.

 

Gambar 9. Kedalaman Level Menu

 

Ketidakkonsistenan menu masih berlanjut seperti pada gambar berikut:

 

Gambar 10. Ketidakkonsistenan Menu 1

 

Gambar 11. Ketidakkonsistenan Menu 2

 

Gambar 10 memperlihatkan menu yang sama antara menu level dua dan menu ada di kolom konten bagian atas, sedangkan Gambar 11 memperlihatkan bahwa tidak semua halaman yang mengakses menu level dua memiliki menu yang sama pada kolom konten bagian atas.

Dan satu lagi hal penting lainnya adalah urutan menu. Jika Gambar 10 dan Gambar 11 diperhatikan, maka dapat dilihat bahwa menu tidak tersusun secara alfabetis. Lantas berdasarkan apakah menu tersebut diurutkan? Padahal sebaiknya menu disajikan secara alfabetis atau diurutkan dengan dasar-dasar tertentu yang umum diketahui oleh user.

 

7.      Rolling Up/Down Text

 

Gambar 12. Rolling Up/Down Text

 

Seputar Info yang diperlihatkan pada Gambar 12 merupakan link-link berupa judul-judul informasi yang bergerak naik. Teks yang bergerak seperti ini menyebabkan beberapa kesulitan. Bisa jadi kemampuan scanning dari user lebih cepat dari gerak teks. Atau bisa jadi user ingin membuka informasi yang baru saja terlihat di textboard-nya namun kelewatan. Maka user tersebut harus menunggu beberapa waktu untuk melihat informasi tersebut. Hal ini akan memakan waktu yang lama untuk melihat informasi tertentu jika informasi yang disajikan sangat banyak.

 

8.      Fasilitas Print

 

Jika diperhatikan dengan seksama, ternyata pada setiap halaman yang dibuka, ada gambar icon kecil di bawah kanan halaman web ini.

 

Gambar 13. Fasilitas Print

 

Ternyata icon tersebut berupa gambar printer. Namun tidak semua user dapat mengerti arti gambar tersebut. Akan lebih baik jika ada tulisan ”Print” di samping kanan icon tersebut. Selain itu, gambarnya terlalu kecil dan kurang jelas. Namun apakah Print perlu diperlihatkan jika konten halamannya seperti gambar-gambar di bawah ini:

 

Gambar 14. Fasilitas Print yang Tidak Perlu

“Print” sebaiknya dihadirkan pada halaman-halaman yang memperlihatkan artikel dan informasi yang berupa grafik, tabel, berita, dan lain-lain dan diletakkan di atas konten tersebut sehingga user menyadari kehadiran fasilitas tersebut.

9.      Scrolling

 

Pengamatan terhadap situs Bank Indonesia (http://www.bi.go.id) ini dilakukan dengan menggunakan PC Desktop yang memiliki resolusi layar 1280 x 800 pixels. Web ini bersifat dinamis dalam tampilan dan tidak menetapkan ukuran resolusinya. Sehingga berapapun resolusi layar dari user, web dapat dilihat tanpa harus melakukan scrolling ke kanan dan ke kiri.

Ada beberapa kasus di mana user  harus melakukan scrolling yang sangat panjang dari atas ke bawah untuk melihat informasi. Contohnya adalah pada saat membuka Peta Situs. Seharusnya scrolling yang sangat panjang dapat dihindari. Lihat gambar berikut:

 

Gambar 15. Potongan Gambar Halaman dengan Scrolling  yang Panjang

 

Gambar di atas merupakan potongan gambar halaman web ini yang memerlukan scrolling terlalu panjang untuk melihat keseluruhan Peta Situs. Ruang kosong (empty space) yang dipakai terlalu lebar. Padahal ruang kosong tersebut dapat dipakai untuk mengatasi permasalahan scrolling yang terlalu panjang. Cukup dengan menambahkan dua atau lebih kolom pada ruang kosong, scrolling dapat dikurangi sekitar 60%.

 

10.  Pengelolaan Web

 

Untuk mempertahankan user agar tidak kabur dari web, web harus menyajikan informasi yang menarik dan up-to-date bagi user-nya. Web harus dikelola isi kontennya. Jangan biarkan user melihat informasi yang tidak bernilai karena hal tersebut cukup membuang-buang waktu user. Contohnya ada pada saat user ingin melihat informasi survey:

 

Gambar 16. Polling survey yang Kosong

 

Pada gambar di atas, ada polling mengenai sistem pembayaran. Namun sama sekali tidak ada pertanyaan survey. Tanpa pertanyaan sama sekali, tentu tidak ada informasi yang bisa dikirimkan ke server. Oleh karena itu, tombol Kirim di-disable. Jadi untuk apa survey ini disajikan kepada user? Apakah pertanyaan survey bisa dijawab kembali dengan mengklik tombol Ulang? Ternyata tidak. Setelah tombol Ulang diklik, user akan digiring kembali ke halaman ini tanpa ada perubahan apapun. Jadi untuk apa ada tombol Ulang? Informasi seperti ini kembali menimbulkan pertanyaan. Apakah proses survey telah selesai dan user hanya dapat melihat hasilnya saja? Berikut tampilan setelah tombol Hasil Survey diklik:

 

Gambar 17. Hasil Survey

 

Dengan melihat angka 0% di atas, timbul pertanyaan baru. Apakah ada yang pernah mengisi survey-nya? Sepertinya tidak. Jadi untuk apa konten  yang tidak memberikan informasi apa-apa seperti ini ditampilkan?

 

11.  Tipografi

 

Font-face yang dipakai pada web ini termasuk baik karena tidak menggunakan stroke pada tiap ujung karakternya. Penggunaan stroke pada konten web akan menyebabkan user kurang nyaman dalam membaca. Font-face yang digunakan juga konstan tanpa perubahan. Perubahan hanya terjadi sedikit untuk tag-tag judul seperti gambar di bawah ini (lihat tulisan “Statistik” dan “Seputar Info”) dan tidak memberikan pengaruh yang buruk pada konten web:

 

Gambar 18. Perbedaan Font-Face

Perbedaan font-weight, font-style, dan font-color juga tidak ada masalah, kecuali pada bagian navigasi menu (lihat pembahasan 6). Penggunaan font-weight bold tepat digunakan pada judul-judul informasi dan tag-tag pada konten web. Penggunaan font-style underline dan font-color blue juga tepat digunakan untuk menunjukkan bahwa tulisan tersebut merupakan link. Namun font-size yang digunakan memang agak kecil.

 

12.  Penyajian Informasi

 

Pada Gambar 19, penyajian informasi terbaru di buat dalam format tanggal serta judul informasi yang berupa link ke informasi sebenarnya. Namun terkadang “sekedar” judul saja tidak akan memuaskan para user yang sedang menjelajahi web. Terkadang user hanya ingin membaca inti dari informasi tersebut (seperti abstraksi) tanpa harus membaca seluruh informasinya atau melihat apakah memang informasi tersebut termasuk dalam konteks hal yang sedang ia cari. Hal ini juga penting bagi pemilik web karena dapat memancing user untuk semakin penasaran melihat isi informasi. Berikut contoh format yang baik:

[Tanggal]

[Judul Informasi]

[Dua sampai tiga baris abstraksi tentang informasi tersebut]

 

Gambar 19. Penyajian Informasi

 

13.  Banyak Kolom pada Web

 

Penggunaan kolom pada web ini tidak konsisten. Pada awal masuk homepage, web disajikan kepada user dalam tiga kolom. Kolom pertama berisi menu dan lain-lain, kolom kedua berisi konten dari web, dan kolom ketiga berupa info-info.

 

Gambar 20. Penggunaan Tiga Kolom

Setelah masuk ke halaman yang lain, web ini cuma menyajikan dua kolom, kolom pertama berupa menu dan kolom kedua berupa konten (lihat Gambar 21).

Gambar 21. Penggunaan Dua Kolom

Padahal dengan menggunakan ruang kosong seperti gambar di atas di atas, web tetap dapat disajikan dalam tiga kolom sehingga lebih konsisten. Jadi setiap membuka halaman baru, kolom yang paling banyak mengalami perubahan hanya kolom yang berisi konten.

 

14.  Peta Situs

 

Peta Situs disajikan memanjang ke bawah sehingga perlu scrolling yang panjang untuk melihat seluruh peta. Ruang kosong yang diperlihatkan terlalu  banyak sehingga terlihat boros tempat (lihat Gambar 15). Peta Situs perlu dibuat dalam  tiga sampai empat kolom untuk menghemat tempat.

Pada sebuah web yang baik, link yang pernah diklik akan mengalami perubahan warna. Namun tidak demikian pada Peta Situs web ini. Hal ini menyebabkan user yang ingin mengeksporasi web ini melalui Peta Situs menjadi kesulitan. User bisa saja lupa link mana yang sudah ia kunjungi. Jika user lupa ia sudah menjelajah sampai link yang mana, ia harus mengecek kembali link-link yang ada pada Peta Situs. Hal ini tentunya membuang-buang waktu dan dapat menyebabkan user kabur.

 

15.  Kontak Bank Indonesia

 

Peletakkan alamat Humas BI dengan center alignment menyebabkan ketidak konsistenan pada halaman ini (lihat Gambar 22). Seharusnya alamat tersebut diratakirikan saja seperti tulisan yang lain di halaman ini. Pemilihan kata-kata “Atau email melalui form di bawah ini” juga kurang tepat. Seharusnya kata “email” diganti dengan kata “kirimkan email” karena “email” bukan merupakan kata kerja. Pemilihan label untuk form di atas tidak konsisten karena penggunaan bahasa yang tidak konsisten. Label “Nama” dan “Pertanyaan/Saran/Komentar” menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan label “Subject” mengggunakan bahasa Inggris. Penggunaan label “E-mail” dalam Bahasa Inggris tidak akan menimbulkan masalah karena “E-mail” lebih umum digunakan daripada “Surat Elektronik”. Pemilihan label “Pertanyaan/Saran/Komentar” juga tidak baik. Terlalu banyak “/”. Padahal label tersebut dapat dipersingkat menjadi “Pesan” atau “Message”. Peletakkan textarea untuk mengisi “Pertanyaan/Saran/Komentar” juga tidak konsisten, seharusnya diratakan dengan textbox yang di atasnya. Dan hal yang aneh adalah adanya fasilitas print untuk konten halaman seperti ini.

Gambar 22. Kontak Bank Indonesia

16.  Laporan

 

Gambar 23. Laporan

Pada konten laporan yang terlihat seperti artikel (lihat Gambar 23), ada pilihan untuk dapat melihat laporan selengkapnya. User akan beranggapan bahwa link menuju laporan selengkapnya akan berupa laporan yang lebih lengkap yang masih berada dalam halaman konten web Bank Indonesia.

Namun ternyata user akan di bawa ke halaman lain di mana user diberikan link untuk men­-download  laporan dalam format zip (lihat Gambar 24). Jika link tersebut hanya menuju halaman lain yang menunjukkan link untuk download laporan, mengapa tidak dari awal saja langsung memberikan link download laporan tanpa harus menuju ke halaman lain? Dengan menuju ke halaman lain terlebih dahulu, efektifitas akan berkurang.

Gambar 24. Arsip Laporan

17.  Data Statistik

 

Gambar 25. Tampilan Awal Data Statistik

 

Gambar 25 merupakan tampilan awal saat user ingin melihat data statistik. Permasalahannya sama seperti pada Peta Situs, yakni link yang telah diklik tidak berubah warna dan scrolling yang sangat panjang.

Berikut ini merupakan potongan gambar form untuk melihat Posisi Giro pada Bank Umum menurut Golongan Pemilik Outstanding of Demand Deposits of Commercial Banks by Ownership (Gambar 26). Untuk dapat melihat tombol Submit Query, user harus melakukan scrolling yang sangat panjang dari atas ke bawah. User berkemungkinan tidak menyadari adanya tombol ini jika user  malas melakukan scrolling.

 

Gambar 26. Form Penyajian Informasi Data Statistik

User hanya diperbolehkan untuk melihat data statistik Posisi Giro ini satu-satu, misalnya “Rupiah dan Valuta Asing – BPR” saja atau “Rupiah dan Valuta Asing – Perorangan” saja. Hal ini tentu menyebabkan ketidakefektifan ketika user ingin melihat beberapa data statistik. Sebaiknya input radio diganti dengan input checkbox sehingga user dapat memilih data-data statistik mana saja yang ingin dia lihat secara langsung. Ditambahlagi box kecil yang terlihat di bawah input radio terlihat cukup menggangu.

Pemborosan ruang kosong dan scrolling yang sangat panjang juga terjadi saat tombol Submit Query diklik.

 

Gambar 27. Pemborosan Scrolling pada Informasi Data Statistik

 

18.  Grafik Inflasi

 

Untuk melihat grafik inflasi, user harus mengklik link seperti yang terlihat pada Gambar 28. Grafik akan muncul dalam new window yang berukuran kecil dan kemunculan new window adalah hal yang sangat tidak diharapkan. Padahal masih banyak ruang kosong yang dapat digunakan untuk langsung menampilkan grafiknya.

 

Gambar 28. Link untuk Melihat Grafik Inflasi

Gambar 29. Grafik Inflasi dalam New Window

 

KESIMPULAN

 

Situs Bank Indonesia ini sudah baik dalam pemanfaatan white space. Tipografinya juga tidak bermasalah. Penggunaan font-nya sesuai pada tempatnya Sayangnya sering terjadi kasus di mana terlalu banyak scrolling-scrolling panjang dan pemborosan ruang kosong.

Kesalahan berikutnya terdapat pada Navigasi Menu. User sulit menyadari bahwa itu merupakan menu kecuali user menemukan dropdown menu saat mouse-nya tidak sengaja bergerak ke sana.

Navigasi link diharapkan dapat berubah warna setelah diklik. Terutama untuk penyajian informasi seperti Peta Situs atau Data Statistik yang menyajikan banyak link. Hal ini dikarenakan user berkemungkinan besar lupa akan link-link mana saja yang sudah dia jelajahi. Jika user lupa, pengecekan kembali link-link oleh user akan mengurangi keefektifan.

Dan kesalahan yang paling fatal adalah fasilitas searching yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. User sangat membutuhkan fasilitas ini untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan secara cepat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nielsen J & Loranger H. 2006. Prioritizing Web Usability. Berkeley: New Riders.